the power of viral challenges

mengapa manusia mau melakukan hal berbahaya demi validasi digital

the power of viral challenges
I

Pernahkah kita menatap layar ponsel, melihat seseorang menelan sesendok penuh bubuk kayu manis, tersedak hebat, lalu kita bertanya-tanya dalam hati? Kenapa sih ada orang yang rela menyiksa diri begitu? Atau mungkin, pernahkah kita melihat remaja memanjat tumpukan krat susu yang goyah, jatuh terbanting, hanya demi direkam kamera? Kita yang menonton mungkin menggelengkan kepala. Rasanya sulit mencerna jalan pikiran mereka. Namun, sadarkah kita bahwa fenomena ini bukanlah sekadar kebodohan acak? Jawabannya ternyata tidak sesederhana "karena ingin viral". Ada sebuah mesin purba di dalam kepala kita semua yang sedang dibajak secara diam-diam.

II

Kalau kita berpikir tren melakukan hal konyol demi pengakuan ini baru muncul di era media sosial, sejarah mencatat fakta yang sebaliknya. Ratusan tahun lalu, para bangsawan Eropa rela menaburkan bedak yang mengandung timbal beracun ke wajah mereka. Kulit mereka melepuh, gigi membusuk, bahkan nyawa melayang. Mengapa mereka melakukannya? Karena saat itu, kulit pucat adalah simbol status sosial tertinggi. Ini membuktikan satu hal fundamental tentang kita. Kebutuhan manusia untuk diakui oleh kelompoknya adalah sesuatu yang sangat primitif. Di zaman purba, jika kita diusir dari kelompok, itu berarti mati kelaparan atau dimakan predator. Jadi, otak kita berevolusi keras untuk memastikan kita selalu diterima. Masalahnya, standar "kelompok" kita sekarang sudah berubah wujud. Dulu, kelompok kita hanya berisi puluhan orang di satu desa yang saling mengenal. Sekarang, kelompok kita adalah jutaan pasang mata tak terlihat di balik layar kaca.

III

Di sinilah situasi menjadi sangat mendebarkan secara psikologis. Ketika kita melihat sebuah tantangan viral atau viral challenge, otak kita mulai melakukan kalkulasi bawah sadar yang rumit. Terjadi perang dingin antara bagian otak yang logis, yaitu prefrontal cortex, dengan bagian otak yang mengurus emosi dan penghargaan, yaitu amygdala dan sistem limbik. Logika kita jelas akan berteriak kencang. "Jangan melompat dari atap itu, tulangmu bisa patah!" Namun, tiba-tiba ada suara lain yang berbisik lebih kuat. Suara ini menawarkan ilusi kebesaran yang sangat menggoda. Pertanyaannya, sihir kimiawi macam apa yang membuat suara emosi ini mampu membungkam akal sehat kita? Mengapa ancaman patah tulang yang nyata bisa kalah telak oleh iming-iming angka imajiner di sebuah aplikasi?

IV

Mari kita berkenalan dengan sang sutradara di balik layar: dopamin. Sering disalahpahami sekadar sebagai hormon kebahagiaan, dopamin sebenarnya adalah molekul motivasi dan antisipasi. Zat inilah yang membuat kita terus menggulir layar ponsel di tengah malam. Saat seseorang memutuskan ikut tantangan berbahaya, otak mereka sebenarnya tidak sedang mengejar rasa sakit fisik. Otak mereka sedang mengantisipasi ledakan notifikasi, lonjakan jumlah likes, dan rentetan komentar. Setiap notifikasi kecil adalah suntikan dopamin langsung ke dalam sistem saraf kita. Secara neurobiologis, likes dan views diterjemahkan oleh otak sebagai validasi sosial tingkat tinggi. Otak purba kita bersorak gembira, "Lihat, jutaan orang menyukaimu! Kamu tidak akan dibuang oleh suku ini!" Ditambah lagi, pada remaja dan dewasa muda, bagian prefrontal cortex yang bertugas mengerem perilaku impulsif belum berkembang sempurna. Kombinasi antara banjir dopamin dan rem otak yang blong inilah yang akhirnya melahirkan keberanian tak masuk akal di depan kamera.

V

Mengetahui fakta ini, rasanya tidak adil kalau kita sekadar duduk manis dan menghakimi mereka yang ikut-ikutan tantangan viral. Mereka, dan mungkin juga kita tanpa sadar, hanyalah manusia biasa. Kita sedang beroperasi menggunakan perangkat keras peninggalan zaman batu, namun dipaksa berlari di dunia serba digital. Kebutuhan untuk dilihat, diakui eksistensinya, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar adalah hal yang sangat manusiawi. Tentu saja, ini bukan berarti kita bebas melakukan hal bodoh tanpa konsekuensi. Namun, dengan memahami cara kerja mesin di dalam kepala kita sendiri, kita mendapatkan satu kekuatan baru: kendali. Kita jadi punya ruang untuk bernapas sejenak sebelum menekan tombol rekam. Kita bisa bertanya dengan jujur pada diri sendiri, apakah validasi sesaat dari ribuan orang asing ini sepadan dengan nyawa kita. Karena pada akhirnya, persetujuan paling berharga yang kita butuhkan untuk bertahan hidup bukanlah dari sebuah algoritma, melainkan dari penghargaan terhadap diri kita sendiri.